Tampilkan postingan dengan label SOSPOL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SOSPOL. Tampilkan semua postingan

HIMA Pendidikan IPS Peduli, Wujudkan Pengabdian Masyarakat


Foto Bersama Pengurus HIMA Pendidikan IPS ketika Adakan Pengabdian Masyarakat di Pantai Goa Cemara

HIMA Pendidikan IPS- Sabtu, 21 September 2019 akan diadakan acara Puncak Pengabdian Masyarakat di Pantai Goa Cemara, Kabupaten Bantul. Yogyakarta. Rencananya, kegiatan inti dari acara puncak ini adalah presentasi pengabdian dan pelepasan tukik penyu oleh mahasiswa baru program studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial serta panitia yang terdiri dari anggota Himpunan Mahasiswa Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial 2019. Tukik dipilih dikarenakan mengingat populasi penyu yang menipis dewasa ini karena banyaknya sampah-sampah di lautan lepas.
Program kerja Pengabdian Masyarakat merupakan kegiatan sosial yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial divisi Sosial dan Politik. “Sebelum acara puncak, Pengabdian Masyarakat mempunyai serangkaian kegiatan yaitu mahasiswa baru dibagi menjadi delapan kelompok pengabdi. Kedelapan kelompok tersebut nantinya akan diberi waktu selama satu minggu dimulai dari tanggal 4 September 2019 sampai 11 September 2019 untuk mengabdi kepada masyarakat,” ungkap M. Shafly Farrabi selaku ketua panitia Pengabdian Masyarakat 2019. Tema-tema pengabdian antara lain; TPA, Daur Ulang, Rumah Belajar, dan Sociopreneur. Setiap kelompok pengabdi akan didampingi oleh satu pemandu dari panitia.
Selesai mengabdi, mahasiwa baru ditugaskan untuk membuat essay mengenai tema-tema yang bersangkutan serta laporan kegiatan setiap harinya. Isi dari essay tersebut tak lepas dari kegiatan-kegiatan yang telah mereka berikan kepada masyarakat selama satu minggu. Laporan yang sudah tersusun kemudian di presentasikan kepada mahasiswa Pendidikan IPS pada saat puncak acara di Pantai Goa Cemara dalam bentuk powerpoint.
Dengan diselenggarakannya program kerja Pengabdian Masyarakat ini diharapkan mahasiswa Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial lebih peka terhadap masalah-masalah sosial di masyarakat serta dapat mewujudkan salah satu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Panitia berharap kegiatan ini akan berjalan rutin setiap tahunnya dan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat maupun mahasiswa itu sendiri. (Ainaya)


Share:

Diskusi Publik “Perempuan, Kekerasan, dan Kebebasan (Perempuan di Tengah Budaya Patriarki)”



Suasana Diskusi yang Antusias Diikuti oleh Mahasiswa Pendidikan IPS

            HIMA Pendidikan IPS- Bidang Sosial Politik HIMA DIPSOS UNY mengadakan diskusi publik dengan mengusung tema “PEREMPUAN, KEKERASAN, DAN KEBEBASAN (Perempuan di Tengah Budaya Patriarki)”. Diskusi ini kurang lebih dihadiri oleh 70 peserta dari mahasiswa Pendidikan IPS, ormawa FIS, dan masyarakat umum. Bertempat di ruang Cut Nyak Dien FIS UNY pada 24 April 2019, kegiatan ini berlangsung dengan lancar dan interaktif dengan pemantik Yuyun Sri Wahyuni, M.A, M.A yang merupakan Dosen Pendidikan IPS juga aktif di Pusat Studi Gender UNU DIY dan Nurmawati dari Lembaga Rifka Annisa Woman Crisis Center DIY.
Kepala Bidang Sosial Politik, Agustina Neilla Putri menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wadah bagi teman-teman mahasiswa untuk berdialektika bersama dan berusaha mencari solusi bersama. Dengan adanya diskusi interaktif, diharapkan mampu memberikan pemahaman dan pandangan tentang peran perempuan sebagai bentuk kebebasan tanpa ada kekerasan didalamnya. Segala sesuatu yang berkaitan dengan kekerasan perempuan dan hukum keadilannya diulas bersama-sama di dalam diskusi interaktif ini.
Diskusi tentang budaya patriarki tidak jauh dari pembahasan kesetaraan gender. Dalam diskusi ini ditegaskan bahwa kesetaraan gender bukanlah suatu upaya dimana perempuan akan melawan kondrat dan menandingi kaum laki-laki, tetapi kesetaraan gender dilakukan supaya antara perempuan dan laki-laki tidak lagi terjadi penindasan atas dasar laki-laki sebagai manusia ‘superpower’ dimana hal ini lebih dikenal dengan budaya patriarki. Tidak jarang budaya patriarki ini menimbulkan kekerasan yang merugikan bagi kaum perempuan. Kasus kekerasan perempuan adalah sebuah lingkaran yang terkadang sangat sulit diputus. Banyak perempuan-perempuan yang memilih bungkam dan memaafkan saat menerima kekerasan tersebut tanpa mau menyelesaikan minimal dalam pendampingan hukum. Banyak orang menganggap apabila melaporkan hal-hal tersebut sama saja membuka aib keluarga. Untuk era saat ini kekerasan pada perempuan justru paling besar terjadi pada hubungan pacaran. Dimana seorang laki-laki mengangap memiliki hak sepenuhnya atas perempuan lantas mereka bisa melakukan hal apa saja dari membentak, mencubit, hingga memukul.
Menurut salah satu peserta diskusi, Irfan Setiaji berkata: “Budaya patriarki yang masih membelengu dalam kehidupan masyarakat memang bukan hal yang mudah untuk mencapai keadilan. Tidak ada pembenaran untuk melakukan kekerasan. Jadilah pelopor yang memutus mata rantai kekerasan terhadap permepuan. Kaum perempuan dan kaum laki-laki bukanlah bukan hanya insane yang salin pimpin meminpin tetapi merupakan mitra yang saling bekerjasama untuk membentuk keadilan ditengah budaya patriarki”. (Neilla)

Share:

Keluarga Dalam Perspektif Sosiologi


Dalam buku sosiologi suatu pengantar di jelaskan bahwa proses sosialisasi primer itu dari keluarga[1]. Kita ketahui bahwa seseorang lahir langsung berinteraksi dengan keluarga, baik ibu, bapak, dan keluarga yang lain. Misalnya seorang anak diadzani oleh ayahnya ketika baru lahir, atau dalam tradisi Katholik anak yang baru lahir di bacakan doa untuk keselamatannya, begitu juga dengan agama yang lain beserta ritual-ritualnya. Interaksi ini memang di perlukan untuk anak untuk menunjukan identitas sosialnya kelak[2].
Kumpulan seseorang bisa disebut keluarga jika minimal terdapat ayah atau ibu, kalau dalam beberapa kasus di Nusantara terdapat keluarga kecil dan keluarga besar. Keluarga kecil terdiri dari Ayah, Ibu, Anak, Nenek, Kakek. Sedangkan keluarga terdapat tambahan paman, bibi, sepupu, dan seterusnya. Keluarga inilah yang nantinya akan membentuk karakter dasar dari anak tersebut. Interaksi yang dialami anak akan terbawa sampai ia nantinya berkiprah secara aktive di masyarakat.
Bentuk keluarga di pulau Kalmimantan misalnya, terdiri dari beberapa kepala keluarga yang bertempat tinggal di dalam sebuah rumah panggung yang besar. Biasanya terdiri dari lebih dari sepuluh kepala keluarga yang menempati rumah panggung tersebut. Dalam keluarga itu sudah terdapat pembagian kerja yang jelas, baik tugas yang berkebun dan berburu atau tugas perempuan untuk memasak. Hal ini sudah menjadi pola tata kehidupan di sebagian wilayah Nusantara.
Terdapat fungsi-fungsi keluarga diantaranya adalah afeksi, proteksi, edukasi, dan fungsi lainnya. Fungsi afeksi di butuhkan oleh seorang anggota keluarga untuk mendapatkankasih sayang, misalnya seorang anak akan meminta perhatian orang tuanya dalam beberapa hal, seorang istri ingin di cintai secara penuh oleh suaminya, dan lain-lain.
Fungsi proteksi adalah fungsi untuk mendapatkan rasa aman di dalam keluarga tersebut. Setiap anggota keluarga ingin mendapatkan rasa aman jika berada didalam lingkungan keluarga tersebut. Rasa aman itu timbul karena ada anggota keluarga yang lain untuk melindunginya. Misalnya seorang anak merasa aman dari ancaman di luar lingkungan rumahnya jika berada di keluarganya.
Fungsi edukasi adalah bagian dari pendidikan dalam sebuah keluarga. Kita sepakati bahwa pendidikan pertama yang dialami oleh anak adalah keluarga. Karena dalam keluarga mewariskan nilai-nilai yang akan disampaikan kepada anak. Tanpa sebuah edukasi anak-anak tidak dapat membedakan norma yang dianggap baik atau buruk oleh komonitasnya. Sehingga proses tranfer nilai-nilai tersebut melalui edukasi keluarga. dan terkadang keluarga tidak hanya mewariskan nilai-nilai terhadap anaknya tetapi juga mewariskan ilmu pengetahuan.
 Dalam sebuah perjalanannya terkadang fungsi-fungsi tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya, dan terdapat masalah masalah yang ada di dalam keluarga tersebu, misalnya kekerasan dalam rumahtangga (KDRT). Dewasa ini terdapat banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi di Indonesia, data statistik di jakarta pada tahun 2011menunjukan bahwa terdapat 209 orang perempuan dan anak-anak yang mengadukan mendapatkan kekerasan.sedangkan pada tahun 2010 terdapat 287 orang [3]. Hal ini menunjukan bahwa banyak sekali kasus kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga terutama terhadap perempuan dan anak.
Seharusnya keluarga mempunyai fungsi afeksi, proteksi, ekonomi, dan lain-lain tetapi pada kenyataannya terdapat juga orang mengalami kekerasan. Kasus yang terhangat akhir-akhir ini menimpa seorang anak kecil mungil dan lucu yang bernama Angeline. Pembunuhan itu di duga ibu angkat korban yaitu Margriet ikut andil dalam pembunuhan tersebut.[4] Kasus banyak menuai simpati dari kalangan masyarakat Indonesia agar tidak terjadi lagi. Bagaimana mungkin anak kecil yang masih belum berdosa secara kejam di bunuh. Mereka juga mempunyai hak untuk hidup, dan disini fungsi keluarga tidak berfungsi secara optimal.
Kebanyakan kekerasan yang terjadi adalah menimpa perempuan dan anak-anak. Karena terdapat kelamin sosial (bias gender) yang di ciptakan oleh budaya yang ada. Dalam pandangan Feminisme duni I[5] kesamaan antara laki-laki itu harus sama dalam semua aspek, bahkan dalam menentukan sexs, dan ektremnya lagi mereka ingin berada di atas kaum laki-laki. Berbeda halnya dengan gerakan feminisme di dunia III[6] mereka ingin kesamaan dalam hal akses publik dan kesepakatan dalam rumah tangga. Seperti perempuan berhak untuk bekerja, menjadi pemimpim, menempati jabatan strategis dalam negara, dan lain-lain.
Pada hakikatnya masyarakat mengalami sebuah dinamisasi. Dan merupakan hal yang lumrah jika pada setiap keluarga dan masyarakat mengalami sebuah masalah, karena dalam proses dinamisasi terkadang ada sebuah nilai yang masih sulit untuk diadopsi oleh keluarga atau masyarakat tersebut sehingga menyebabkan pertentangan-pertentangan dalam anggota masyarakat tersebut.. Tetapi sikap kita sebagai kaum intelektual harus bisa bersikap inklusif dan bisa memfilter terhadap nilai-nilai baru, serta mampu mempertahankan nilai-nilai lama yang baik.

Oleh: Muhammad Ilyas
Makalah ini di sampaikan pada diskusi bansospol Kamis 18 Juni 2015 di taman Ganesha Fakultas Ilmu Sosial (FIS). Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


[1] Soerjono soekanto. 1982. Sosiologi Keluarga. Jakarta: Rajawali Press
[2] Brayan S turner. 2011. Teori Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
[3] Sumber ini dari perempuan.or.id diakses pada tanggal 18 juni 2015 pukul 04.00 WIB
[4] Merdeka.com. diakses pada tanggal 18 juni 2015 pada pukul 04.55 WIB
[5] Meliputi negara-negara maju seperti USA, Inggris, Prancis, dan lain-lain
[6] Meliputi negara berkembang, seperti Indonesia, India, Vietnam, dan lain-lain
Share:

BTemplates.com

Selamat Datang di Blog Resmi Pendidikan IPS FIS UNY